Film Indonesia Yang Mutunya Jelek atau Penontonnya Yang Nggak Bermutu?
Cewe: Udah beli majalah belum?
Cowo: Belum
Cewe: Tumben, biasanya nonton selalu bawa majalah
Bioskop XXI Senayan City 7 desember 2008
Menonton film di bioskop merupakan tradisi bagi orang Eropa. Alasan sebagian besar orang Indonesia nonton bioskop adalah karena letaknya berada di mall. Mau dimanapun atau apapun alasannya nonton bioskop, tidak ada alasan bagi kamu semua untuk tidak menuruti tata cara menonton film yang baik dan benar.
1. Di festival film Cannes atau Sundance, ada peraturan yang berhak mengambil HP penonton jika berbunyi sewaktu pemutaran film. Kita semua tau kalau handphone itu hanya berguna kalau dinyalakan, tetapi lain soalnya kalau lagi di dalam bioskop. Matikan.
2. Tidak ada hirarki dalam menonton film, mau kaya ataupun miskin, ketika di dalam bioskop kita semua sama. Anda dan saya membayar harga tiket yang sama untuk menonton James Bond atau Cewe Matrepolis. Kalau kamu merasa terlalu kaya untuk diam, nontonlah di Premiere XXI atau kelas Velvetnya Blitz dan ganggulah sesama orang kaya lainnya sampai kamu merasa siap untuk bisa kembali ke habitat pembayar tiket murah.
3. Kita kesal ketika petugas bioskop melarang membawa makanan dari luar karena harga konsesi mereka mahalnya minta ampun, jadi bawalah makanan dari luar tetapi pilih dulu dong makanannya. Saya pernah berada dalam studio yang sama dengan seorang ibu yang tidak sadar kalau bau durian dapat menyengat satu ruangan besar..gila apa loe?
4. Jangan naikkan kaki ke kursi seberang. Pernah ada cewe yang lagi keasikan sms sampai kedua kakinya dinaikkan ke sandaran bangku saya. Kalau diam saja nggak masalah, tapi anehnya, kakinya punya ilmu getar.
5. Berhenti berulang kali menanyakan pasangan kamu “hah, ada apa sich..?” padahal tau apa yang terjadi di adegan-adegan itu tapi pura-pura lugu doang biar kelihatan imut.
6. Sampaikan dengan amarah “Nggak, saya nggak punya kartu BCA!”
7. Mulailah mengantri dengan benar. Kita diberi sepasang kaki oleh yang Diatas untuk melangkah maju kedepan, kebiasaan dari orang kita banyak yang tidak mensyukuri pemberian itu dan memilih untuk mengadopsi cara jalannya kepiting…nyamping.
8. Jangan menambahkan sound effect. Bioskop Amerika tidak memperbolehkan penonton untuk meneriakkan “kebakaran” dalam bioskop, kalau di Indonesia, nonton film horor tidak diperbolehkan untuk teriak kalau setannya belum keluar.
9. Jangan hanya berani tepuk tangan di Jiffest atau pemutaran festival film kelas internasional lainnya. Berikan respons yang baik setelah menonton film yang bagus atau lontarkan cemoohan kalau filmnya tidak sesuai seperti yang diharapkan. Tempat ibadah tidak mengharapkan jemaatnya untuk kaku, saya kira, bioskop juga mengharapkan reaksi dari penonton.
Jangan mengikuti Budaya Indonesia yang senangnya menerima, bukan memberi. Tiket menonton film tidak murah, bila ada diantara kita yang merasa dirugikan, tegurlah. Jika gambar yang diproyeksikan tidak setajam yang seharusnya, panggil petugas bioskop dan bertindaklah seolah-olah kamu pembuat film itu dan tuntutlah untuk mengkalibrasi ulang projectornya, meskipun kamu tidak mengetahui arti kalibrasi, dan meskipun tidak ada istilah kalibrasi untuk projector film, yang penting kamu puas.
Ceritakan pengalamanmu yang menyebalkan di bioskop!

