Film Indonesia

November 29, 2008

Dear Beben

Filed under: Uncategorized


Tahun 2001, akibat film jelangkung, masyarakat pelan-pelan dalam hati mengatakan bahwa film Indonesia akan bangkit lagi, tapi setelah saya melihat filmnya, pelan-pelan dalam hati mengatakan ”mmm…kayaknya nggak deh”

Tahun 2002 akibat film Ada Apa Dengan Cinta, masyarakat mulai berani mengatakan film Indonesia akan bangkit lagi! Dengan berani saya juga mengatakan ”mmm..kayaknya nggak deh”

Gua    : Ya ampun AADC biasa banget, kok bisa suka sih?

Beben : Bagi gua AADC udah bagus kok

Gua    : Biasa aja tuh

Beben : Ya dibandingin film2 indonesia belakangan ini, lumayan lah!

Kita sebagai orang Indonesia (entah budayanya entah orangnya aja) mudah sekali untuk men-cap suatu produk buatan dalam negeri dan mengatakan kalau produk itu bagus, sedangkan kalau dibandingkan dengan luar negeri…

Beben :Ya jauh laaah kalo dibandingin ama yang sana, tapi at least untuk film Indonesia ‘mayanlah!

Kembali saya di-skak mat, trus di jorokin tepi jurang, oleh kalimat “Kalo untuk film kita udah bagus”. Debatnya beben memang benar, tapi kalo menurut saya kata-kata itu yang nantinya kalau kita pegang dan ucapkan terus akan menjadi kutukan bagi perfileman Indonesia (Sastra dan musik juga) karena keberadaan penonton Indonesia bukan sebagai pemerhati namun hanya sebagai insan penasaran yang dibodoh-bodohi nantinya (sudah terbukti dengan sinetron). Jadi marilah kita memulai dengan mengatakan jelek apabila film itu jelek dan layak apabila film itu bagus.

Beben : Jadi menurut loe AADC layak doang?

Gua    : Iya deh

Dari sudut produksi, AADC memiliki

a) Cerita yang bagus – memang sudah tugasnya penulis skenario mengembangkan cerita yang bagus dari ide yang telah ada

b) Pemilihan aktor yang baik – Nggak kepikiran kan siapa artis kita sekarang ini yang bisa menggantikan peran Rangga dan Cinta

c) Art – Nggak begitu kelihatan…yang berarti bagus dan juga sudah tugas dari department art, makeup & wardrobe untuk mempercantik isi dari setiap frame

d) Tata suara yang baik – Asal dialog pemainnya terdengar jelas ya pasti bagus

e) Penataan cahaya yang bagus – Memang sudah tugasnya si penata cahaya

f) Pengarahan yang bagus – Memang sudah tugasnya Rudi

Semua kriteria dari film ini terpenuhi untuk menjadikan film yang layak, tetapi belum bisa dibilang bagus karena sama sekali tidak ada dari enam kriteria tersebut yang menonjol keluar dari layar dan menghajar pipi kita dengan tangan kosong. Bandingkan dengan Chungking Express atau Film buatan Iran “Children of Heaven” atau karya awal Ang lee “Eat Drink Man Woman” Ketiga contoh ini merupakan film luar (Gak usah masuk Amerika dulu deh ben..) Dan bertema universal yang benar-benar membuat penonton merasa mereka sedang menonton sebuah film, beda seperti film kita; maka itu bukankah banyak dari kita yang ketika ditawari untuk nonton sebuah film tertentu di bioskop lebih cenderung memilih untuk nonton di “DVD aja dech” ? Atau bahkan setelah nonton film, karena kesalnya, kita sering mengatakan “Kayak sinetron”. Kata kunci dari film adalah Transcendent, itu saja yang membedakannya dari medium televisi

Awal keinginan saya memulai blog ini karena kerinduan dan malu akan kerinduan saya terhadap film-film indonesia sewaktu kecil yang membuat saya tertawa ketika menonton film Warkop, terharu sewaktu Lydia Kandou dan Rano Karno berpelukan diatas mobil orang dan ketakutan melihat batok kepala Suzanna dipukul oleh paku dan itu semua merupakan kenangan yang seharusnya tidak saya banggakan. Keresehan saya dimulai ketika banyak seniman yang terinspirasi oleh film-film klasik yang mereka tonton sewaktu kecil seperti film Rules of the Games milik Renoir atau 400 Blows karya Truffaut atau apapun yang disutradarai oleh Hitchcock. Sedangkan saya, atau para pembuat film dan sinetron kita terinsipirasi oleh film apa sewaktu kita kecil? Mungkinkah itu salah satu letak permasalahan dari kualitas film kita?

Mungkin saya malu tapi bukan berarti nggak cinta, pengen banget suatu hari kita disetarakan dengan film-film internasional; Aku cinta buatan Indonesia kata Bimbo tapi Cinta gak boleh dipaksa kan? Belum sekarang deh, mudah-mudahan suatu hari.

Beben :  Btw, tapi lebih mending lah generasi kita malu dengan film-film jadul waktu kita kecil dibandingkan generasi mendatang yang akan terkenang dengan AADC atau Eiffel I’m in love :)  

Film adalah sebuah medium yang unik, gabungan sekaligus perayaan dari setiap unsur seni yang ada. Seharusnya, Film membohongi anda 24 kali setiap detiknya, bukan Produsernya atau penulis ceritanya atau pun sutradaranya yang membohongi anda.

Udahlah ben, kita musuhan aja..

free hit counters

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com