Film Indonesia

December 17, 2008

Film Indonesia Yang Mutunya Jelek atau Penontonnya Yang Nggak Bermutu?

Filed under: Uncategorized

Cewe: Udah beli majalah belum?

Cowo: Belum

Cewe: Tumben, biasanya nonton selalu bawa majalah

Bioskop XXI Senayan City 7 desember 2008

Menonton film di bioskop merupakan tradisi bagi orang Eropa. Alasan sebagian besar orang Indonesia nonton bioskop adalah karena letaknya berada di mall. Mau dimanapun atau apapun alasannya nonton bioskop, tidak ada alasan bagi kamu semua untuk tidak menuruti tata cara menonton film yang baik dan benar.

1. Di festival film Cannes atau Sundance, ada peraturan yang berhak mengambil HP penonton jika berbunyi sewaktu pemutaran film. Kita semua tau kalau handphone itu hanya berguna kalau dinyalakan, tetapi lain soalnya kalau lagi di dalam bioskop. Matikan.

2. Tidak ada hirarki dalam menonton film, mau kaya ataupun miskin, ketika di dalam bioskop kita semua sama. Anda dan saya membayar harga tiket yang sama untuk menonton James Bond atau Cewe Matrepolis. Kalau kamu merasa terlalu kaya untuk diam, nontonlah di Premiere XXI atau kelas Velvetnya Blitz dan ganggulah sesama orang kaya lainnya sampai kamu merasa siap untuk bisa kembali ke habitat pembayar tiket murah.

3. Kita kesal ketika petugas bioskop melarang membawa makanan dari luar karena harga konsesi mereka mahalnya minta ampun, jadi bawalah makanan dari luar tetapi pilih dulu dong makanannya. Saya pernah berada dalam studio yang sama dengan seorang ibu yang tidak sadar kalau bau durian dapat menyengat satu ruangan besar..gila apa loe?

4. Jangan naikkan kaki ke kursi seberang. Pernah ada cewe yang lagi keasikan sms sampai kedua kakinya dinaikkan ke sandaran bangku saya. Kalau diam saja nggak masalah, tapi anehnya, kakinya punya ilmu getar.

5. Berhenti berulang kali menanyakan pasangan kamu “hah, ada apa sich..?” padahal tau apa yang terjadi di adegan-adegan itu tapi pura-pura lugu doang biar kelihatan imut.

6. Sampaikan dengan amarah “Nggak, saya nggak punya kartu BCA!”

7. Mulailah mengantri dengan benar. Kita diberi sepasang kaki oleh yang Diatas untuk melangkah maju kedepan, kebiasaan dari orang kita banyak yang tidak mensyukuri pemberian itu dan memilih untuk mengadopsi cara jalannya kepiting…nyamping.

8. Jangan menambahkan sound effect. Bioskop Amerika tidak memperbolehkan penonton untuk meneriakkan “kebakaran” dalam bioskop, kalau di Indonesia, nonton film horor tidak diperbolehkan untuk teriak kalau setannya belum keluar.

9. Jangan hanya berani tepuk tangan di Jiffest atau pemutaran festival film kelas internasional lainnya. Berikan respons yang baik setelah menonton film yang bagus atau lontarkan cemoohan kalau filmnya tidak sesuai seperti yang diharapkan. Tempat ibadah tidak mengharapkan jemaatnya untuk kaku, saya kira, bioskop juga mengharapkan reaksi dari penonton.

Jangan mengikuti Budaya Indonesia yang senangnya menerima, bukan memberi. Tiket menonton film tidak murah, bila ada diantara kita yang merasa dirugikan, tegurlah. Jika gambar yang diproyeksikan tidak setajam yang seharusnya, panggil petugas bioskop dan bertindaklah seolah-olah kamu pembuat film itu dan tuntutlah untuk mengkalibrasi ulang projectornya, meskipun kamu tidak mengetahui arti kalibrasi, dan meskipun tidak ada istilah kalibrasi untuk projector film, yang penting kamu puas.

Ceritakan pengalamanmu yang menyebalkan di bioskop!

December 6, 2008

Film Takut

Filed under: Uncategorized

7 Sutradara 6 cerita 1 jeritan

Ketika evolusi memberikan, antara lain, fisik yang bervariasi pada tiap makhluk, tingkat analitikal pada otak, evolusi juga memberi pengaruh terhadap perkembangan gen yang hanya dimiliki manusia yang menjadikan kita dominan diantara makhluk lain. Salah satunya adalah naluri manusia untuk merasa cemas. 

Primata, seperti simpanse yang memiliki garis evolusi yang sama dengan manusia, tidak memiliki gen rasa ketakutan yang sama seperti yang dimiliki oleh manusia; Kita lebih mudah ditakut-takuti dibanding mereka tetapi malah kekurangan inilah yang menjadikan kita makhluk yang lebih pintar, kecemasan  memicu kita untuk semakin awas terhadap lingkungan sekitar dan berpikir secara logis bagaimana caranya bertahan hidup ketika berada dalam situasi yang membutuhkan perlawanan/pertahanan ketika diserang.

Gagasan kelemahan manusia sebagai makhluk penakut, kembali dieksploitasi oleh film horor kita berjudul Takut yang hanya bisa ditonton di bioskop Blitz Megaplex.

Show Unit – Rako Prijanto
Film pertama berjudul Show Unit disutradarai oleh Rako Prijanto, menceritakan tentang sebuah pembunuhan yang tidak disengaja dilakukan oleh si protagonis utama (Lukman Sardi) yang menimbulkan rentetan ketidak-sengajaan lainnya yang membuat karakter ini menjadi antagonis. Empati kita akan karakter itu hilang dengan sekejap, ketika ia membunuh seseorang lagi yang menyaksikan jenazah yang dia sembunyikan di bagasi mobilnya, padahal sebenarnya orang yang ia bunuh itu tidak melihat apa-apa. Jenazah itu telah hilang dan Lukman Sardi pun bingung. Serius, kayaknya dia bingung beneran sama ceritanya, bukan akting doang.

Plot filmnya tertuju kepada pemeran utama dan bagaimana ia dapat mengeluarkan dirinya dari masalah yang ia buat sendiri. Senjata sutradara yang paling ampuh adalah ketika dia dapat membuat penonton ikut merasa bersalah ketika protagonis kita melangkah atau membuat keputusan yang salah; Sayangnya Rako tidak mengarahkan Lukman Sardi untuk membuat penonton merasa seperti itu.

Film pendek bukan berarti harus terburu-buru dalam mengemas suatu cerita, diantara keenam film pendek yang ditayangkan, hanya skenario ini yang mempunyai bobot suspense yang tinggi. Suspense berarti waktu yang tertahan untuk memberi jawaban yang singkat. Ketika penonton diberi jawaban dengan cepat tanpa jeda waktu yang cukup untuk membuat penonton itu penasaran, maka bukan suspense namanya, tetapi takut saja. Sangat cocok bila film Show Unit ini dijadikan film pertama yang mengawali mereka semua, karena judul inilah dan film inilah sebenarnya tema dan benang merah yang mewakili film lainnya, yaitu “takut saja”. Dibawah alam sadar penonton, saya kira semua yang membayar tiket ketika memasuki film horor hanya menginginkan untuk dibuat penasaran, bukan ketakutan. Takut adalah sesuatu yang kita rasakan setelah nonton filmnya, implikasi seusai nonton film horor dan apakah kita ikut ketakutan bila diposisikan dalam situasi yang mirip (Banyak yang takut berenang di laut setelah menonton Jaws, nginap di rumah teman yang baru kenal dan teringat film Psycho, The ring dan kita yang terobsesi dengan menonton di layar kaca, dll)

Titisan Naya - Riri Reza
Riri Reza adalah tipikal sutradara yang mementingkan detail daripada keseluruhan filmnya, dia tahu art yang bagus, bahasa visual yang tepat tetapi tidak terlalu mengenal cerita. Dia lebih mengutamakan karakter dibanding plot, bukannya bagi saya itu salah, tetapi pengaplikasiannya untuk film horor ini sepertinya kurang cocok.

Keambiguan yang ditonjolkan di awal film sangat membuat kita ingin tahu apakah yang akan terjadi nantinya, tetapi tidak semestinya tengah dan akhir juga membuat kita heran, seakan-akan ceritanya belum selesai atau akan bersambung, itulah kesalahan yang lupa dipertanyakan setiap orang setelah menulis skenario, apakah ini sebuah film atau episode. Bayangkan apa rasanya ketika kamu seorang wanita, disetubuhi oleh laki-laki, lalu setelah lelaki itu orgasme, dia langsung pakai celana, terus langsung pulang. Itulah yang saya rasakan ketika nonton film ini. Wanita yang ditinggal cowonya pergi selagi masih ngangkang. Tetapi, kekuatan besar yang membuat film ini layak adalah akting Dinna Olivia, dari awal perkenalan karakternya sampai adegan ketika ia merayu saudaranya (Junior Lim)  sampai terakhir ia berteriak melihat setan tak ada satu kelemahan pun yang bisa ditemukan dari Dinna.

Peeper - Ray Nayoan
Wiwied Gunawan memerankan seorang penari Jawa cantik yang mempergunakan kecantikannya untuk menarik perhatian pria untuk mempertahankan kecantikannya. Epy Kusnandar, seorang pekerja di tempat pertunjukkan dimana Wiwied bekerja, suatu hari mengintipnya sewaktu sedang di ruang rias dan ketahuan oleh penari tersebut, lalu mereka mulai pacaran dan akhirnya mereka menikah lalu mempunyai rumah bagus dan senang sepanjang masa.

Ada cewe yang tertarik dengan cowo yang kurang menarik dan ditaruh dalam film horor, apa maunya cewe itu ya udah kebaca lah apa jadinya.

The List - Robby Ertanto

Film Indonesia    : Kalau kurang durasi, taruh saja adegan sama dukun

Film Barat         : Kalau kurang durasi, bikin adegan orangnya lagi ngaca terus ada bayangan hantu lewat di kacanya

Brian Yuzna    : Nggak pake hantu, pake laba-laba, lipas dan lintah. Cermin sudah terlalu biasa,gimana kalau TV, dikurangi hantunya! Dukun menarik tapi bukan sebagai selingan tetapi pemain utama saya si dukun.

Dan jadilah film The List yang diperankan oleh Fauzi Baadilla dan Shanty. Tidak minta dipuji, tidak pamer dan menghibur. Bukan contoh film horor yang baik tapi belum pernah liat prostetik sebagus itu dalam film indonesia. Dan sangat membantu anda agar tidak begitu marah ketika dikejutkan oleh film setelahnya

The Rescue - Raditya Sidharta
Kayaknya saya pernah nonton film buatan inggris yang mirip ini tapi apa ya, genrenya juga horor dan ada zombienya tapi lupa judulnya.

Sering kan menahan kencing kalau lagi nonton bioskop karena saking jalan ceritanya seru, jadinya sayang kalau ketinggalan sedikit? Nah, tujuan film ini untuk mengingatkan penonton untuk pergi ke toilet…dan jangan buru-buru.

Spoiler: Cewe Kartu As ikutan main

Dara - Timothy Tjahjanto & Kimo Stambel
"Hell hath no fury like a woman scorned". Sosok wanita yang menyeramkan adalah sewaktu dia menyakiti kita apabila hatinya disakiti, yang tambah menyeramkan adalah apabila dia ingin menyakiti kita tanpa sebab apapun.

Komedi slasher tentang seorang koki sekaligus pemilik restoran yang mempunyai hobi menjamu teman-teman lelakinya untuk makan malam di rumahnya, tetapi sebenarnya lelaki-lelaki tersebut adalah korban yang nantinya dia jadikan jamuan untuk tamu di restorannya.

Adegan penyiksaan dan kekerasan di film ini mengingatkan kita akan beberapa film luar antara lain: Scarface (Gergaji dan tangan diikat di kamar mandi), Hostel (leather dan gergaji), Saw (lampu neon, ambience lampu neon, tile ditembok) dan Kill Bill (Lucy Liu memenggal kepala lawannya) Tetapi dirangkum dengan baiknya sehingga menimbulkan kesan kalau mereka adalah pecinta film-film tersebut dan diapresiasikan dalam bentuk genre yang berbeda, bukannya hanya mencuri saja, inilah yang harus dipelajari oleh sutradara-sutradara kita yang panjang tangan.

Dara dimainkan oleh Shareefa Danish yang kelihatannya dipilih memainkan peran Dara bukan karena kelebihannya dalam berakting tetapi karena wajahnya yang unik. Dan unik itu relevan =P
Jarang sekali tatapan dingin dari seorang aktor/aktris Indonesia yang bisa tampak bagus di sebuah layar, sebutkan layar apa saja dan bandingkan dengan Danish. Saya membayangkan kalau di film sinetron, semua tatapan dia sudah pasti akan di zoom dan diberikan sound effect culas.

Yang menarik lagi dari film ini, adalah ketika satu cerita bisa menghasilkan tiga lapisan cerita yang berbeda. Layer pertama menceritakan tentang psikopat yang membunuh orang untuk disantap. Layer kedua mengistilahkan tentang wanita dan film kekerasan dan yang ketiga adalah keberadaan wanita ditengah kaum lelaki. Layer kedua adalah pembahasan yang sering dipermasalahkan, ketika wanita dijadikan karakter utama dalam film horor karena dari pandangan lelaki, mereka adalah kaum lemah dan mudah untuk ditakut-takuti yang hampir semuanya dijadikan korban dari lelaki seperti The Amytiville horror, Rosemary’s baby, dan The Grudge dan yang terakhir dan yang paling penting adalah Layer ketiga yang sangat mengangkat tinggi harkat dan derajat wanita yang diinginkan oleh Kartini, saya yakin kalau Ibu Kita masih hidup, pasti dia akan bangga menonton film ini, dia pasti akan berkata “Kalau belum bisa diterapkan di lingkungan sosial Indonesia, yang penting film sudah duluan”. Gambaran superfisial lelaki yang dipaparkan di film ini diingatkan terus oleh Timothy & Kimo contohnya lewat adegan sifat laki2 yang bangga akan keperkasaan tubuhnya, mencari alasan ingin dekat dengan seorang wanita lewat simpati dan banyak lagi, pada awalnya saya menonton agak ragu apakah ini hanya analisa yang dipaksakan atau tidak, tetapi setelah melihat endingnya yang memperlihatkan Dara sedang mengantarkan piring untuk tamunya, kita melihat isi piring itu, yaitu selembar daging panjang dan dua makanan berbentuk bulatan dibawahnya, saya tidak ragu lagi, ini film machoisme wanita pertama di Indonesia.   

Tidak salah lagi, daging tersebut menggambarkan titit dan biji

Mo Brothers berencana untuk mengembangkan film Dara ini berjudul Macabre, Mudah-mudahan layak seperti film pendeknya.

Ada seorang sutradara yang mengatakan pada saya, “Film horor Indonesia itu pemainnya doang yang ketakutan, tetapi penontonnya tidak” Itulah gambaran Film horor kita sekarang ini. Ketika film Takut ini keluar, saya maunya (dan anda juga pastinya) paling enggak ceritanya dulu deh bagus, kalau nakut-nakutin masih belum bisa tapi ternyata tidak juga. Tujuh film pendek, enam cerita, seolah-olah mengakampanyekan “Bila satu sutradara dengan satu cerita tidak bisa membuat anda takut, mungkin tujuh sutradara dengan enam cerita bisa!” Ternyata tidak juga. Penulis dan sutradara kita harus terus mencari tahu apa yang penonton takuti, jangan apa yang orang bule takuti karena kalo orang-orang kita ketakutan pasti seluruh dunia juga ikut takut, yakin deh. Budaya mistis kita masih lebih kuat dibanding negara-negara lain, dukun saja masuk TV dan punya ketik_reg sendiri kok. Mungkin karena sutradara kita sering kerja dekat air jadinya kurang berhasil ya. Mungkin kah? 

Saksikan Takut di Blitz Megaplex. Bioskopnya anak gaul dan para security rese
 

Tiket nonton ini disponsori oleh Cindy dan Imunk A Gentleman geek. Thx guys! Check out their music @ http://www.myspace.com/agentlemangeek It’s one haute cuisine of electronics and much more!

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com